Ou Ruoyun menatap gugup, kedua tangannya meremas ujung pakaiannya. "Tuan Xiao, apa sebenarnya yang sedang kau gunakan ini? Mengapa terlihat begitu menakutkan," ucapnya dengan suara bergetar, berusaha keras menekan rasa gentar di dadanya. Meski ini kedua kalinya ia menyaksikannya, tekanan kekuatan dan rasa asing yang tidak mampu ia jelaskan selalu muncul setiap kali memandang sosok di depannya.

Lynx mengangkat alisnya, tatapannya memancarkan rasa ingin tahu. "Menurutmu ini menakutkan?" gumamnya pelan. Ia teringat, baru dua kali ada orang yang melihatnya dalam pakaian tempur terbaru itu. Saat mengenakan baju tempur milik Kael, orang-orang hanya menganggapnya menggunakan pakaian aneh. Namun ketika ia memakai kostum yang di dunianya disebut pakaian pahlawan super, orang-orang di sini justru menganggapnya menyeramkan. Bahkan keluarga Baihuan menyebut dirinya sebagai iblis.

"Aku... iya... tidak..." Ou Ruoyun menunduk dalam-dalam, wajahnya memerah, kepalanya menggeleng cepat. Ia berusaha menepis ketakutan yang terus menekan dadanya.

Lynx menarik napas panjang, nada suaranya terdengar pasrah. "Ruoyun, kamu tidak perlu merasa takut. Aku tidak akan pernah menyakitimu." Dalam ucapannya terselip rasa lelah, seolah ia tidak menyangka pakaian yang membuatnya bangga justru menghadirkan reaksi yang berlawanan dengan harapannya.

Ou Ruoyun memaksakan senyum tipis, bibirnya bergetar. "Maafkan aku, Tuan Xiao. Aku hanya... belum terbiasa," bisiknya lirih.

"Tidak perlu memanggilku Tuan," Lynx menoleh padanya dengan sorot mata lembut. "Kamu bisa memanggilku Xiao Ling, atau Lynx. Aku rasa itu akan membuat perjalanan kita terasa lebih akrab."

Ou Ruoyun terdiam sejenak, keraguan jelas terlihat, namun akhirnya ia mengangguk pelan. "Kalau begitu, berhentilah juga memanggilku dengan sebutan nona. Cukup panggil aku Ruoyun... atau Yun’er, seperti kepala desa biasa memanggilku."

Senyum tipis muncul di wajah Lynx. "Baiklah, Yun’er. Mari kita lanjutkan perjalanan. Aku bisa merasakan ada banyak orang di depan. Kita akan mencari informasi di sana."

Ia mengetahui keberadaan mereka karena merasakan gelombang energi yang bergetar di udara. Fluktuasi tajam dari sebuah pertarungan beresonansi di kejauhan, menembus dedaunan hutan.

"Oh ya jangan lupa, namaku saat seperti ini, Plasura. Kamu harus merahasiakan identitasku." Kata Lynx sambil melangkah menuju arah tempat rombongan yang dirasakannya.

***

Hutan lebat yang mengelilingi jalur dagang siang itu dipenuhi aroma lembap dedaunan basah, sementara cahaya matahari hanya menembus samar di antara rimbun pepohonan. Di jalan setapak, rombongan pedagang besar bergerak perlahan. Gerobak-gerobak kayu sarat barang berderit ditarik kuda-kuda gagah. Jumlah mereka ratusan, terdiri dari pedagang kaya, para pelayan, serta barisan pengawal bersenjata lengkap yang berjalan rapat di sisi kiri dan kanan.

Tiba-tiba suasana berubah. Dari depan muncul bayangan hitam yang berdiri menghadang jalan. Belasan pria dengan wajah bengis menutup jalur, dipimpin seorang pria paruh baya yang tatapannya dingin bagai es. Namun sosok paling mencolok adalah seorang kakek berambut putih kusut yang duduk santai di atas batu besar, seolah semua ini hanya sebuah tontonan kecil untuk mengisi waktu.

"Berhenti!" suara keras pengawal terdengar, menghentikan laju kereta.

Seorang pedagang dari barisan tengah segera maju. "Tuan pengawal, mengapa kita berhenti? Siapa orang-orang itu?" tanyanya dengan wajah penuh kebingungan.

Pengawal itu menatap lurus ke depan, sorot matanya tegang membaca situasi. Dari cara mereka berdiri, rombongan itu jelas berniat jahat. Ia mencoba mengukur kekuatan mereka, menduga sebagian berada di ranah Master Foundation, sama seperti para pengawal bayaran. Namun dua orang di antara mereka benar-benar tidak bisa ia baca, dan hal itu membuat tubuhnya kaku penuh kewaspadaan.

"Kembalilah ke tempatmu. Aku akan mengurus ini," katanya tegas.

Ia maju selangkah, suaranya lantang. "Siapa kalian yang berani menghadang rombongan dagang?" Nada tegas itu dibalut sikap hormat, berusaha menghindari masalah yang tidak perlu.

Mereka adalah pengawal bayaran dari kelompok Elang Emas, terkenal di kerajaan Fenglong sebagai penyedia jasa ekspedisi dan pengawalan. Biasanya para bandit segera memberi jalan bila melihat mereka, apalagi setelah menerima imbalan uang jalan. Namun akhir-akhir ini banyak kasus penculikan dan hilangnya rombongan antar wilayah tanpa jejak, sehingga para pedagang semakin bergantung pada perlindungan Elang Emas. Kini, dihentikan oleh kelompok asing yang tak dikenal, sang pengawal merasa firasat buruk menekan dadanya.

Ia melangkah maju di ikuti oleh beberapa orang pengawal. Sebagai pengawal bayaran yang ditugaskan mengawal para pedagang, menjaga keselamatan orang yang di kawalnya adalah yang utama. Ranahnya berada di Master Foundation perak pertengahan, itulah sebabnya ia dipercaya memimpin pengawalan kali ini.

Pria paruh baya pemimpin perampok itu menyeringai dingin. "Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas, mulai saat ini barang-barang dan nyawa kalian berada di bawah kendali kami."

"Kami dari kelompok Elang Emas dan hanya lewat mengantarkan rombongan, tidak bermaksud mencari masalah," jawab kepala pengawal, suaranya mencoba berdamai dengan mengenalkan nama kelompoknya. Harapannya rombongan itu segera memberi jalan setelah mendengar nama kelompok mereka. "Izinkan kami melanjutkan perjalanan. Kami bersedia memberi kompensasi."

Namun tawa kasar meledak dari barisan penjahat. "Kompensasi? Yang kami inginkan adalah seluruh rombongan menyerah! Termasuk kalian para pengawal rendahan!" Ucapannya diakhiri dengan kilatan pedang hitam.

SHRAAANG!

Cahaya pedang memotong udara, menghantam para pengawal. Tubuh mereka terpental keras, terjerembab di tanah dengan luka terbuka menganga.

Dalam hati pria paruh baya itu bergumam, "Seandainya keluarga Baihuan tidak membutuhkan darah mereka, aku sudah membantai semuanya di sini." Ketua Monrest melarang penyebutan nama keluarga Baihuan agar tak menimbulkan kecurigaan, maka mereka menyamar sebagai perampok, hanya untuk melumpuhkan dan membawa korban ke tempat persembunyian keluarga itu.

Melihat rekan-rekannya tersungkur, para pengawal yang sebagian besar berada di ranah Master Foundation perunggu meraung marah. Pedang dan tombak mereka terangkat, tekanan aura meledak memenuhi udara.

"Kalian berani menyerang kami. Tidakkah kalian tahu siapa kami?" kepala pengawal berteriak dengan wajah merah padam.

Pria paruh baya itu tersenyum mengejek, suaranya dingin. "Siapapun kalian, tetap hanyalah semut. Bahkan gabungan Master Foundation tidak akan mengubah takdir kalian. Menurutlah... atau mati."

DUAARRR!

Ayunan pedangnya kembali melesat, energi hitam meluncur seperti badai, menghantam kepala pengawal bersama beberapa orang di sampingnya. Tubuh mereka terhempas bagai boneka rapuh.

Jeritan panik pecah. Para pedagang berlarian mundur, wajah pucat pasi. Para pengawal tersisa maju, pedang dan tombak berkilau, namun serangan mereka seperti diterpa badai tak kasat mata.

Anak buah penjahat melompat ke tengah pertempuran. Tubuh mereka bergerak lincah, pukulan dan tendangan penuh energi menghancurkan formasi pertahanan para pengawal.

Kepala pengawal yang sudah terluka terhuyung, darah mengalir di dadanya. Dia menatap sekitarnya dan melihat semua para pengawal yang rata-rata berada di Master Foundation sudah berhasil di lumpuhkan oleh para penjahat dengan mudah dan cepat. Tubuhnya bergetar. Firasat buruk yang sempat di rasakannya menjadi kenyataan.

Ia meraih batu formasi untuk meminta bantuan, tetapi kepala perampok menggerakkan tangannya. Dalam sekejap tubuh sang pengawal tertarik mendekat, kedua lengannya dilumpuhkan begitu saja.

"Mau minta bantuan? Percuma." Sindir kepala perampok. Dia lalu memandang anak buahnya yang sudah melumpuhkan para pengawal. sikapnya terlihat santai dan tersenyum tipis. "Lumpuhkan kekuatan mereka semua. Ingat jangan bunuh mereka! Kita masih memerlukan darah segar mereka untuk pengorbanan nanti."

Mendengar kata pengorbanan, suara ketakutan orang-orang di rombongan pedagang terdengar jelas. Para wanita saling berpelukan, sementara para pedagang mundur kebelakang dan memerintahkan para pelayan untuk melindungi mereka.

"Berhenti! Berhenti! Lepaskan kami! Berapa yang kalian mau? Kami akan memberikan berapapun yang kalian mau asalkan melepaskan kami." kata salah satu pedagang mencoba bernegosiasi. 

Pimpinan perampok hanya tertawa saat mendengar para pedagang mencoba menyelamatkan diri mereka dengan menawarkan harta benda. Jumlah harta yang dimiliki oleh para pedagang bernilai besar bagi orang biasa, namun bagi para kultivator terutama keluarga Baihuan, jumlah harta benda para pedagang di depan mereka ibaratkan garam di lautan, tidak ada artinya bagi mereka.  

Ketegangan pecah ketika tiba-tiba dari arah rombongan, beberapa sosok melesat ke depan. Jubah mereka sederhana, seolah bagian dari pedagang, namun begitu bergerak, aura mereka tak bisa disembunyikan lagi.

Mereka adalah murid senior Sekte Akar Kehidupan.